Suasana di area pelatihan murid inti Sekte Api Langit yang sebelumnya penuh semangat perlahan berubah. Hentakan kaki yang biasanya terdengar mantap saat mereka mengeluarkan jurus, teriakan semangat yang menyala-nyala, dan dentingan senjata yang beradu tajam satu sama lain kini mulai menghilang satu demi satu. Seperti ombak yang menghilang ditelan ketenangan, semua suara itu mereda, berganti dengan keheningan yang tegang. Perhatian semua orang secara perlahan beralih ke satu titik yang sama.

Langkah Zhu Rui terdengar mantap, penuh tekanan, dan membawa atmosfer berat yang tak bisa diabaikan. Ia berjalan menuju arah Lynx dengan gerakan yang tenang namun mengintimidasi, seolah setiap langkahnya menekan udara di sekelilingnya. Aura seorang master tahap fondasi emas awal menyelimuti tubuhnya, terasa seperti badai tak kasatmata yang mulai mendominasi area latihan. Udara tiba-tiba menjadi lebih padat, seperti beban tak terlihat yang menekan dada semua orang yang berada di bawah tingkat kekuatannya. Bahkan untuk bernapas pun rasanya sulit.

Gerakan para murid terhenti seketika. Ada yang masih setengah berjongkok dalam posisi kuda-kuda, tubuh mereka membeku di tengah gerakan. Ada pula yang berdiri dengan napas terengah-engah, keringat membasahi wajah, tapi mata mereka tak beralih sedikit pun dari satu arah. Semua pandangan itu bukan hanya tertuju pada Zhu Rui, melainkan pada sosok lain yang menjadi tujuannya. Seorang pemuda asing yang berdiri santai di dekat seorang wanita. Keduanya tampak tenang, bahkan si pemuda masih bisa tersenyum seolah ia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh kedatangan Zhu Rui yang mengusung tekanan luar biasa.

Dari sisi kanan lapangan, tiba-tiba terdengar suara berat membelah keheningan.

"Heh! Kenapa kalian tiba-tiba berhenti? Siapa yang suruh kalian berhenti latihan? Ayo lanjutkan!" seru seorang pria dengan nada keras dan penuh otoritas.

Ia berjalan perlahan dengan kedua tangan disilangkan di belakang punggung. Jubah putih bersih membalut tubuhnya, dan kain merah mencolok melilit di lengan kirinya, pertanda bahwa dia adalah salah satu pengawas resmi sesi pelatihan. Tatapan matanya tajam seperti elang, menyapu barisan murid yang kini membeku dalam kecanggungan.

Sikap pria itu tampak tegas dan penuh wibawa. Ia dikenal sebagai pengawas yang disiplin dan tak segan memberi hukuman. Tak sedikit murid yang merasa enggan bila harus berlatih di bawah pengawasannya, sebab ketegasannya kerap berubah menjadi tekanan mental yang sulit ditahan. Namun kali ini, bahkan kehadirannya pun tampak tak cukup kuat untuk sepenuhnya mengembalikan fokus para murid yang kini tak bisa berpaling dari ketegangan yang tengah terjadi di lapangan.

Pria itu tetap berjalan dengan tenang, tak menunjukkan tanda-tanda terganggu meski suasana di sekelilingnya mulai berubah. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, seolah hal semacam ini sudah menjadi bagian dari rutinitas. Ia memang bukan orang yang mudah terusik oleh keributan. Di lingkungan pelatihan seperti ini, konflik antar murid bukanlah hal asing baginya. Menurut aturan Sekte Api Langit, bentrokan semacam itu bahkan dianggap sebagai proses alami untuk mengasah kemampuan dan mental para murid. Selama tidak menyebabkan luka serius, cacat permanen, atau kematian, semuanya dianggap wajar dan tidak akan dihentikan.

Namun keheningan itu akhirnya sedikit pecah ketika seorang murid muda dengan ragu mengangkat suaranya.

"Maaf, Senior... itu... sepertinya..." ucapnya pelan. Nada bicaranya terdengar tidak yakin, dan matanya tak berpaling sedikit pun dari titik fokus yang sama seperti murid-murid lainnya.

Pengawas itu menghentikan langkahnya, lalu mengerutkan alis. Ia tampak ingin menanggapi dengan tenang.

"Perselisihan kecil antar murid itu bukan masalah. Kalian tidak perlu sampai—"

Kalimatnya terputus begitu saja. Tatapannya bergerak mengikuti arah pandang para murid, lalu tertuju pada sosok yang sedang didekati Zhu Rui. Matanya sempat membelalak, lalu menyipit perlahan, penuh kecurigaan dan perhatian mendalam.

"Zhu Rui? Apa lagi yang ingin dia lakukan kali ini? Siapa pemuda yang sedang dia dekati?" batinnya mulai dipenuhi pertanyaan.

Ekspresinya berubah drastis begitu ia mengenali pemuda itu. Sorot matanya yang semula tajam kini mengandung sinisme yang kental. Bibirnya bergerak, melontarkan gumaman yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

"Itu... kalau tidak salah, Xiao Ling. Pemuda yang berhasil mencuri perhatian adik Ling Mei..."

Nada suaranya terdengar tajam, seperti tertusuk sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Matanya terus menatap ke arah Xiao Ling yang berdiri santai di samping seorang gadis. Dari cara berdiri hingga ekspresi santainya, semua membuat hatinya terasa semakin panas.

Pandangan pria itu menjadi lebih tajam, menyiratkan gejolak emosi yang ia coba sembunyikan. Namun jelas, ada campuran iri, kekesalan, dan kebingungan dalam sorot matanya. Ia sendiri pernah diam-diam menyimpan rasa terhadap Ling Mei, sama seperti banyak murid pria lainnya. Gadis itu dikenal dingin dan tak mudah didekati, seperti bunga salju yang tak bisa disentuh. Namun kini, dia menunjukkan kehangatan yang tak biasa pada seorang pemuda asing, seolah hanya Xiao Ling yang mampu menembus lapisan es yang selama ini membungkus dirinya.

Rasa tak percaya perlahan merayap di wajahnya. Hatinya dipenuhi pertanyaan yang tak terucapkan, dan satu hal mulai jelas baginya. Kedatangan Xiao Ling ke tempat ini bukanlah hal sepele, dan jika Zhu Rui memang berniat menantangnya, maka ini bisa memuaskan rasa kesalnya terhadap pemuda itu.

“Kamu Xiao Ling, kan?”

Suara Zhu Rui terdengar dingin, berat, dan penuh tekanan. Tatapan matanya tajam seperti pisau yang hendak menguliti isi kepala lawan bicaranya. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan namun penuh intensitas. Tangannya mengelus perlahan liontin kalung yang menggantung di lehernya, gerakan kecil yang seolah disengaja untuk menambah suasana menekan.

“Aku sudah cukup lama mendengar namamu. Menarik akhirnya kita bisa bertemu langsung.”

Senyumnya mengembang, tapi bukan senyum hangat yang menenangkan. Sebaliknya, senyum itu kaku dan menyiratkan ejekan yang halus namun menusuk. Lalu dengan nada yang dibuat sedikit lebih keras, seolah ingin memastikan semua orang mendengarnya, ia menambahkan,

“Namaku Zhu Rui. Kakak seperguruan Ling Mei.”

Nada suaranya mengandung tekanan tersembunyi. Saat menyebut nama Ling Mei, intonasinya meninggi, seakan ingin menunjukkan bahwa dia punya hubungan yang lebih dalam dan lebih berarti dengan gadis itu dibanding siapa pun di tempat itu. Matanya tetap menatap tajam ke arah Xiao Ling sambil mengulurkan tangan, seolah ingin berjabat tangan dengan penuh keramahan. Namun di balik gerakan itu, jelas ada maksud lain yang tak sepenuhnya murni.

Lynx menatapnya tanpa berkata sepatah kata pun selama beberapa detik. Tatapannya datar, tapi tidak kosong. Ia menghela napas pelan, matanya memeriksa wajah pria di depannya dari ujung rambut hingga ke sorot matanya yang licik. Dari cara Zhu Rui berjalan, dari nada bicaranya, dari senyum dingin dan intonasi tajamnya, Lynx bisa langsung menebak apa yang sebenarnya ingin dilakukan pria itu.

Pendengarannya yang tajam menangkap jelas bisik-bisik para murid di sekitar lapangan.

“Itu Xiao Ling, kan? Pemuda yang muncul di tempat ini waktu serangan dari Sekte Kegelapan...” bisik salah satu murid dengan nada pelan namun penuh rasa ingin tahu.

"Iya, itu dia... gara-gara dia, banyak pria di sekte ini patah hati. Dia merebut perhatian Ling Mei." jawab murid disampingnya.

“Wah, kalau gitu... pasti dia akan merasakan nikmatnya berjabatan tangan dengan senior Zhu Rui ...” murid lainnya menimpali dengan tertawa kecil.

“Pasti begitu, dia selalu pakai cara itu tiap kali nemuin lawan yang bikin dia kesal...”

“Lihat aja... sebentar lagi Xiao Ling pasti kesakitan…”

Suara-suara para murid terdengar dari berbagai sudut dan masuk ke pendengaran Lynx. Ia menangkap semuanya, dan semakin yakin dengan kesimpulan yang ia tarik. Di tempat ini, banyak pria tak senang dengan kehadirannya. Mereka cemburu. Dan kini Zhu Rui berdiri di hadapannya, bukan sekadar sebagai individu, tapi sebagai perwakilan dari semua rasa tidak suka itu.

Namun Lynx tak menunjukkan kekhawatiran sedikit pun. Ia tersenyum tipis, tenang, dan anggun, lalu mengangkat tangannya menyambut uluran tangan Zhu Rui. Gerakannya santai, nyaris seperti sedang menyambut teman lama, seolah semua niat buruk itu tak ada artinya.

“Iya, aku Xiao Ling,” ucapnya pelan. Suaranya tenang dan lembut, namun jelas dan tidak bisa diabaikan. “Maaf, aku sedang terburu-buru. Aku harus segera menemui Leluhur Sekte.”

Nada bicaranya sopan, tapi juga membawa ketegasan yang tak bisa ditawar. Wajahnya tetap datar, tak berubah sedikit pun, bahkan ketika tangannya menggenggam tangan Zhu Rui. Tidak ada kerutan, tidak ada meringis, tidak ada kepanikan. Sementara genggaman Zhu Rui perlahan menguat, dua kekuatan yang berbeda mulai bertarung dalam diam, dan semua mata kini tertuju pada satu titik itu, menanti siapa yang akan menunjukkan kelemahan lebih dulu.

